Selasa, 19 Januari 2016

KEHIDUPAN SOSIAL NEGARA DUNIA - PARAGUAY

MAKALAH
ILMU SOSIAL DASAR

"KEHIDUPAN SOSIAL NEGARA DUNIA - PARAGUAY"
'DISUSUN OLEH :

1. SATYO PRIYANGKA (56415441)



KELAS 1IA03
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA
UNIVERSITAS GUNADARMA
DEPOK 2015


BAB 1
PENDAHULUAN
Republik Paraguay (Bahasa Spanyol: República del Paraguay, Guarani: Tetã Paraguái) adalah sebuah Negara di Amerika Selatan yang terkurung daratan dan berada di dua sisi Sungai Paraguay. Paraguay berbatasan dengan Argentina di sebelah selatan dan barat daya, Brasil di timur laut dan timur dan Bolivia di barat daya. Negara ini kadang disebut sebagai Corazón de América atau Jantung Amerika. Di negara ini terdapat Sungai Paraguay.
Suku asli Guarani telah tinggal di Paraguay kurang lebih 1000 tahun sebelum Spanyol menaklukkan kawasan ini pada abad ke-16.
Paraguay beribukota di Asunción yang juga merupakan kota terbesar di Negara itu. Mayoritas penduduk negaranya ber-etnisMestizo yang mencapai 95% dari total populasinya serta suku-suku lainnya yang hanya 5%. Bahasa resminya adalah bahasa Spanyol dan Bahasa Guarani yang merupakan bahasa asli penduduk setempat. Bahasa Spanyol menjadi salah satu bahasa resmi karena memang Paraguay merupakan bekas jajahan Spanyol.
Pada tahun 2009, jumlah penduduk Paraguay diperkirakan sebanyak 6,5 juta jiwa yang kebanyakan terkonsentrasi pada bagian tenggara negara ini. Ibukota dan kota terbesarnya, Asunción merupakan tempat tinggal bagi hampir sepertiga penduduk Paraguay.
Nama negara ini bermakna "air yang mengalir ke samudra", berasal dari kata Guaraní: pará ("samudra"), gua ("ke/dari"), dan y("air", "sungai", atau "danau").
Belum ada kesimpulan akhir tentang nama asli dari "Paraguay". Yang paling umum pun bermacam-macam perkiraan, antara lain:
  • Sungai yang berasal dari laut. 
  • fray Antonio Ruiz de Montoya mengatakan itu berarti "sungai yang ramai".
  • Militer dan ilmuwan Spanyol Félix de Azara memiliki dua versi: "air dari Payaguas (Payaguá-dan Payagua-i), mengacu pada keanegaraman hayati di pesisir sungai, dan yang lain adalah karena nama seorang kepala besar disebut "Paraguaio


BAB 2
PEMBAHASAN
Ini perjalanan pertama menginjakkan kaki di amerika latin. Jadi, sebaiknya berpikir positif saja dan menyambut petualangan ini dengan suka cita. Karena, di perjalanan selanjutnya, banyak yang hal yang membuat jantung harus kerja ekstra keras menerima kejutan. Ibu kota Paraguay ini mempunyai nama yang panjang: Nuestra Señora Santa María de la Asunción.
Acara buka peta, browsing dan membeli buku paduan adalah hal yang pertama yang dilakukan sebelum berangkat. Paraguay dan tetangganya, Bolivia adalah dua negara di benua amerika latin yang tidak dikelilingi garis pantai dan tidak memiliki laut. Sisanya (dan sebagian besar), seperti Brazil, Argentina, Uruguay, Chilie, Peru, Colombia, Equador, Venezuela, Suriname, Guayana Prancis dan Guyana Belanda adalah negara-negara yang memiliki garis pantai dan laut yang indah. 
Melewati imigrasi yang tidak terlalu ramai dan pengambilan bagasi yang terbilang cepat, dan langsung menuju Expo Paraguay di Ruta Transachao Km. 14 Mariano Roque Alonso, yang berjarak kurang lebih 8 km dari bandara dengan menggunakan taksi. Waktu tempuh cepet banget, hanya 15 menit kemudian sampai.
Pak supir taksi yang bernama Carlos dengan baiknya mengantarkan dengan melewati pintu gerbang tiket dimana sebenarnya disana tidak boleh masuk karena tidak mempunyai tiket atau identitas expositor. Tetapi Carlos meyakinkan ke petugasnya. Dengan koper dan beberapa printilan bawaan, Carlos mengantar sampai ke paviliun Indonesia.
Di paviliun yang cukup besar, kami diberikan tempat kehormatan oleh penyelenggara pameran khusus ´Paviliun Indonesia´. Para peserta pameran sudah tampak semua disana.
Pameran ini berlangsung selama 15 hari (3 kali akhir pekan), yang berlangsung dari pukul 10 pagi sampai pukul 8 malam. Karena waktu yang padat, dan tidak sempat berkeliling pameran yang sangat luas bahkan tidak sempat berjalan-jalan di kota. Akhirnya hanya sempat berfoto-foto di depan sebuah gedung di pusat kota, di dekat hotel kami menginap.
Setelah beberapa hari tinggal di Asunción, bias dapat mengenal kota ini dikit demi sedikit. Penduduknya ramah, makanan juga enak dan cocok dengan lidah orang Indonesia. Juga tersedia kantin-restoran yang menyediakan masakan prasmanan, lalu ada aneka daging panggang dan aneka salad.
Di sini yaang menarik perhatian adalah mayoritas penduduknya membawa termos teh kemana-mana. Itu adalah minuman khas daerah amerika latin dan populer di Paraguay, Argentina, Brazil Selatan dan Uruguay. Rasa teh-nya sangat khas. Kalo bias di bilang, sih, seperti ramuan jamu.
Berbicara makanan dan minuman, yang menarik juga adalah penduduk Paraguay yang masih menggunakan dialek lokal, Guarani. Walaupun bahasa resmi nasional mereka adalah spanyol.
Selain itu, beberapa imigran yang berasal dari Lebanon dan negara-negara timur tengah serta dari Jerman, hidup rukun bercampur dengan penduduk lokal. Wajah mereka bisa dikatakan khas.
Di pameran yang berlangsung selama 15 hari, di sana bisa banyak bertemu dengan penduduk lokal. Salah satunya adalah Samir dan orang tuanya yang mempunyai bisnis di bidang kerajinan. Mereka tertarik dengan produk Indonesia. Saat itu, orang tua Samir mengatakan bahwa sang anak mempunyai minat yang tinggi untuk belajar bahasa. Mereka bermaksud mengirim Samir ke Prancis, Obrolan pun menjadi luas. Sampai sekarang, kami tetap menjalin pertemanan dengan Samir melalui Facebook.
Selain Samir, ada Denis. Denis bekerja di hotel kami menginap di pusat kota. Kami yang berjumlah 20an orang cukup membuat panik Denis dengan aneka pertanyaan dan permintaan. Karena Denis  yang ramah dan berbahasa inggris, akhirnya, obrolan pun berlangsung lancar. Denis pula yang menyediakan pemanas di ruang kamar hotel. Pada saat kami datang di bulan juli 2007, cuaca di Asunción terang benderang dan panasnya minta ampun. Beberapa hari kemudian, cuaca berubah seperti winter.
Pada saat pameran berlangsung pun, banyak yang menemui pengunjung dari berbagai negara. Salah satunya adalah Heidi, yang warga negara Prancis dan tinggal di Paris. Tepatnya tinggal di satu kelurahan dimana Tasha dan temanya berbagi apartemen. Oh, dunia begitu kecilnya. Kami pun bertukar email dan saling kontak.
Selama pameran berlangsung dan dengan banyaknya pengunjung, siapapun pasti memerhatikan gaya dandanan para wanita latin. Wajah mereka bermacam-macam. Ada percampuran indian dan eropa, yang populer disebut metisse. Ada yang benar-benar bule seperti orang eropa bahkan juga ada wajah seperti yang sering kita lihat di telenovela.
Ada pesan moral yang tidak bisa di lupakan dan terus di jadikan pegangan untuk perjalanan ke negara-negara amerika latin selanjutnya. Sebagian besar atau mayoritas, omongan mereka tidak bisa dipercaya dan tidak bisa dipegang. Walaupun pasti ada, dong, yang baik hati dan jujur serta memegang ucapannya. Tetapi, disini, nih, kita dapat mulai belajar karakter orang latin. Walaupun tidak adil jika anggap sama semua, tetapi hal ini penting karena akan menjadi barometer di perjalanan selanjutnya mengarungi benua amerika latin.
Dengan berhadapan dengan orang latin yang mempunyai karakter yang berbeda menjadi tantangan tersendiri bagaimana kita menghadapi mereka dengan kepala dingin dan yang paling penting: harus sabar tapi tetap punya prinsip.
Tak terasa masa tinggal di Asunción segera berakhir. Kami pun kukut barang dan siap meninggalkan kota cantik ini.


BAB 3

PENUTUP

Paraguay adalah sebuah negara kecil yang terkurung daratan di jantung Amerika Selatan, berbatasan dengan Brasil, Argentina, dan Bolivia.

Negara ini dibagi menjadi dua daerah yang sangat berbeda. Oriental Region, di timur, memiliki lahan pertanian dan hutan yang kaya. Dua pertiga wilayah di barat dikenal sebagai Gran Chaco. Ini adalah tempat terpencil yang diliputi dengan hutan dan padang rumput semak.

Kebanyakan penduduk Paraguay adalah orang mestizo (keturunan campuran Eropa dan Indian) dan tinggal di Oriental Region. Penduduk adat (asli) membentuk sekitar 2 persen dari populasi. Sebagian besar dari mereka tinggal di daerah Gran Chaco. Suku Indian Guarani awalnya menghuni Oriental Region. Sebagian besar dari mereka telah berbaur ke dalam populasi mestizo.

Paraguay memiliki dua bahasa resmi, Spanyol dan Guarani. Sebagian besar dari penduduk Paraguay adalah bilingual (dapat berbicara dalam dua bahasa). Namun di pedesaan banyak orang hanya menggunakan bahasa Guarani, sementara di Asunción, ibukota, beberapa orang berbicara hanya dalam bahasa Spanyol.

Sekitar 90 persen dari orang-orang Paraguay memeluk Katolik Roma. Namun, belum ada agama resmi negara di Paraguay sejak tahun 1992. Kebebasan beragama dijamin oleh undang-undang.
Kurang dari setengah pekerja Paraguay hidup dari pertanian. Sebagian orang bekerja di perkebunan besar di mana sebagian besar tanaman ekspor dibudidayakan, atau memanen kayu dan hasil hutan lainnya. Sejumlah kecil adalah gaucho (koboi), yang menggembalakan ternak.
Paraguay Timur memiliki tanah yang subur dan hutan yang berharga. Tapi peternakan sapi, pembukaan lahan pertanian, dan pembalakan liar yang meluas telah menyebabkan deforestasi yang signifikan. Hal ini pada gilirannya telah mempengaruhi lingkungan, mulai dari satwa liar hingga curah hujan dan iklim.
Ekonomi Paraguay secara tradisional berbasis pada pertanian dan perhutanan. Kurangnya sistem komunikasi dan fasilitas dasar yang baik membatasi perkembangan di sebagian besar wilayah negara, dan tetap kurang berkembang dibandingkan Brasil dan Argentina.
Meskipun Paraguay adalah negara yang indah, industri pariwisata kurang berkembang. Industri perbankan telah mengalami sejumlah krisis sejak tahun 1997, yang mengakibatkan penutupan beberapa bank terbesar. Yang tidak termasuk dalam statistik ekonomi resmi adalah ribuan usaha kecil yang tidak terdaftar, mulai dari perdagangan kaki lima hingga perdagangan kokain ilegal.
Pemerintah Paraguay didasarkan pada konstitusi 1992. Presiden, yang merupakan kepala negara dan kepala pemerintahan, dipilih untuk masa jabatan lima tahun. Kongres terdiri atas Kamar Perwakilan Rakyat (80 kursi) dan Kamar Senator (45 kursi). Keduanya dipilih setiap lima tahun sekali. Sejak tahun 1992, Paraguay telah mengembangkan Mahkamah Agung yang independen dan sistem pemerintah kota dan departemen yang demokratis.


DAFTAR PUSTAKA
Wikipedia. 2015. “Paraguay“. https://id.wikipedia.org/wiki/Paraguay16 november 2015.

Puruhita. 2012. “Paraguay (2) : Belajar Memahami Karakter Orang Latin“. http://puruhita-journey.blogspot.co.id/2012/12/viii-3-paraguay-2-belajar-memahami.html.16 november 2015.

Pete. 2014. “Profil Lengkap Negara Paraguay”. http://www.kembangpete.com/2014/08/16/profil-lengkap-negara-paraguay/.16 november 2015.

TRADISI DAN UPACARA ADAT - MARONENE

MAKALAH
ILMU SOSIAL DASAR

"TRADISI DAN UPACARA ADAT - MARONENE"
'DISUSUN OLEH :

1. SATYO PRIYANGKA (56415441)



KELAS 1IA03
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA
UNIVERSITAS GUNADARMA
DEPOK 2015


BAB 1
PENDAHULUAN
Suku Moronene adalah suatu suku bangsa yang mendiami wilayah pada bagian ujung selatan jazira Sulawesi Tenggara. Sebelum kata Moronene, digunakan Wonua Bombana/Wita Moronene, yaitu kerajaan Moronene seperti yang dituturkan dalam kada (suatu legenda dalam sastra moronene). Didalam kada dituturkan bahwa kerajaan Moronene diperintah oleh seorang Raja yang bernama Tongki Pu’u Wonua. Tidak diketahui dari mana asalnya dan siapa orangnya, hanya dituturkan bahwa beliau adalah seorang keturunan Raja dari sebuah kerajaan.
Nama Moronene telah lazim digunakan untuk nama bahasa dan nama suku bangsa yang dahulunya terhimpun dalam satu wadah Kerajaan yaitu Kerajaan Moronene. Secara etimologis istilah Moronene berasal dari dua kata yaitu moro yang artinya sejenis, serupa, dan kata nene adalah nama tumbuhan resam batangnya dapat dibuat pengikat pagar, atap dan lain-lain. Lingkungan habitat yang terdiri dari pulau Kabaena dan ujung daratang Sulawesi Tenggara dengan topografi yang sebagian besar bergunung-gunung dan ditumbuhi hutan dan ilalang (lueno) berpengaruh terhadap sistem mata pencaharian penduduk. Karena sebelum ditemukannya emas pada tahun 2008 silam, masyarakat moronene selalu berladang dan bersawah pada daerah-daerah yang subur, sebagian penduduk hidup berburuh di padang (lueno) yang kaya akan rusa, anoa, dan kerbau hutan. Jenis mata pencaharian lain adalah berdagang dengan penduduk yang berada di daerah pantai. Selain itu ada juga yang menjadi pegawai negeri dan pegawai di perusahaan swasta.


BAB 2
SEJARAH / ASAL-USUL
Para pakar anthropolog berkeyakinan bahwa orang Moronene ini adalah penghuni pertama wilayah ini. Mereka tergolong suku bangsa Proto Malayan (Melayu Tua) yang datang dari Hindia Belakang pada zaman prasejarah atau zaman batu muda, kira-kira 2.000 tahun sebelum Masehi. Namun sekitar abad 18, mereka tergusur oleh semakin berkembangnya penduduk lain yang juga menghuni wilayah ini, yaitu suku Tolaki, yang mendesak mereka masuk ke pedalaman Sulawesi Tenggara.
Pada awalnya mereka adalah bangsa nomaden, yang selalu berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, hingga akhirnya mereka menetap di kawasan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai. Sebuah peta yang dibuat oleh pemerintah Belanda pada tahun 1820 sudah tercantum nama Kampung Hukaea sebagai kampung terbesar suku Moronene, yang saat ini wilayah pemukiman mereka ini masuk dalam areal Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai. Kampung pemukiman suku Moronene ini tersebar di 7 kecamatan yang berada di kabupaten Buton dan kabupaten Kolaka. Penyebaran orang Moronene ini terdapat juga di kabupaten Kendari, mereka mengungsi dan bermigrasi akibat gangguan keamanan dari Darul Islam sekitar tahun 1952-1953. Kampung Hukaea, Laea, dan Lampopala, bagia orang Moronene disebut sebagai Tobu Waworaha atau perkampungan tua bekas tempat tinggal para leluhur mereka.
Berdasarkan pengamatan diketahui bahwa hubungan kekerabatan pada suku Moronene khususnya di Kelurahan Ranhampuu Kecamatan Kabaena Kabupaten Bombana terlihat sangat kuat dari berbagai persiapan proses adat perkawianan yang akan dilaksanakan, salah satunya persiapan bahan, benda atau alat yang digunakan dalam prosesi adat perkawinan. Dimana benda-benda yang digunakan tersebut merupakan syarat yang wajib dilaksanakan sebagai sebuah simbol yang memiliki makna tersendiri.   

(Gambar 1 Suku Moronene)


BAB 3
TRADISI SUKU
Suku Moronene adalah salah satu suku bangsa yang mempunyai beraneka ragam adat istiadat dan kebiasaan yang dijalankan oleh masyarakat sebagai warisan budaya leluhur yang terus menerus dilestarikan sampai saat ini. Salah satu tradisi adat Moronene yang menjadi ciri keunikan dengan suku lain adalah adat perkawinan. Adat perkawinan ini masih tetap di junjung tinggi dan dilaksanakan karena terikat dengan hukum-hukum adat yang wajib ditaati oleh segenap masyarakatnya. Adat perkawinan ini juga merupakan salah satu pencerminan kepribadian atau penjelmaan dari pada suku Moronene itu sendiri dalam memperkaya budaya-budaya di Indonesia.
Masyarakat Kabaena sebagai salah satu suku bangsa di Indonesia dengan keanekaragaman suku yang mendiami seluruh pelosok tanah air melambangkan pula keanekaragaman budaya dan keanekaragaman hukum adat yang mengatur perkawinan. Berlakunya hukum adat perkawinan dalam setiap masyarakat atau suku sering berbeda-beda. Tata cara adat perkawinan antara masyarakat yang satu dengan yang lain, demikian pula adat perkawinan suku moronene memiliki adat perkawinan yang berbeda-beda dengan berbagai suku bangsa di Indonesia akan tetapi dengan adanya perbedaan-perbedaan tersebut justru merupakan unsur yang penting yang memberikan identitas kepada setiap suku bangsa di Indonesia. Berdasarkan pengamatan diketahui bahwa hubungan kekerabatan pada suku Moronene khususnya di Kelurahan Ranhampuu Kecamatan Kabaena Kabupaten Bombana terlihat sangat kuat dari berbagai persiapan proses adat perkawianan yang akan dilaksanakan, salah satunya persiapan bahan, benda atau alat yang digunakan dalam prosesi adat perkawinan. Dimana benda-benda yang digunakan tersebut merupakan syarat yang wajib dilaksanakan sebagai sebuah simbol yang memiliki makna tersendiri.
Sebagai salah satu produk budaya, simbol benda-benda yang digunakan dalam adat perkawinan merupakan bentuk pengungkapan yang pada prinsipnya bertujuan untuk mengkomunikasikan pikiran dan perasaan masyarakat yang tumbuh dan bekembang dari waktu ke waktu. Salah satu bentuk pengungkapan simbol sebagai produk budaya adalah folklor yaitu yang berbentuk ungkapan tradisional (James Danandjaja dalam Sirajudin 1993:2). Folklor adalah sebagian kebudayaan suatu kolektif yang  tersebar dan diwariskan secara turun temurun, di antara kolektif macam apa saja secara tradisional dalam versi yang berbeda. Makna simbolik benda dalam adat perkawinan sebagai salah satu karya sastra (budaya),menawarkan permasalahan manusia dan kemanusiaan, hidup dan kehidupan. Pengarang menghayati berbagai permasalahan tersebut dengan penuh kesungguhan. Namun hal itu dilakukan secara selektif dan dibentuk sesuai dengan tujuannya yang sekaligus memasukkan unsur-unsur nilai religius dan memang segala sesuatu itu berdasarkan kepada suatu yang religius (Wellk dan Warren dalam Darmawan. 2006: 2).
Hal itu disebabkan karena pada dasarnya setiap orang yang mampu menghayati tanda dan lambang sebagai sarana untuk perenungan terhadap hakikat hidup dan kehidupan, Perenungan yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Makna simbolik benda yang digunakan dalam prosesi adat perkawinan masyarakat suku Moronene, ditinjau dari fungsinya adalah sebagai pemantapan lahir dan batin bagi kedua mempelai, dimana kedua mempelai adalah dua insan yang berlainan jenis dari segala sisi namun sama dalam titik hidup dan kehidupan. Dilihat dari lahirnya makna simbol dari benda-benda dalam adat perkawinan suku Moronene itu, di sesuaikan dengan tahapan-tahapan dalam prosesi adat perkawinan suku Moronene, mengenai bentuk dan jenis benda tersebut telah ditetapkan dalam ketentuan hukum adat suku Moronene yaitu:tahap mongapi (peminangan)disini telah ditentukan benda yang digunakan adalah pinca (piring), rebite (daun sirih), wua (pinang),tagambere (gambir), ahu (tembakau) serta ngapi (kapur sirih). mesampora (masa pertunangan) alat dan bahan yang digunakan pada masa pertunangan adalah sawu (sarung), sinsi wula (cincin emas).
Alat dan bahan yang digunakan pada saat  montangki (mengantar buah) adalah nilapa(ikan salai yang dibungkus di pelepah pinang), punti (pisang), towu (tebu), nii mongura (kelapa muda), gola (gula merah), tagambere  (gambir), wua (pinang), rebite (sirih), kompe (keranjang yang terbuat dari daun agel), duku (nyiru). Molangarako (mengantar kedua pengantin kerumah orang tua laki-laki), adapun benda yang digunakan adalah kain putih (kaci), benang putih (bana) dan kelapa (nii), beras (inisa), lesung (nohu), kampak (pali), peti (soronga). Penyerahanpokok adat(langa) sebelum akad nikah dilaksanakan, adapun benda-benda dalam (langa)  yaitu karambau(kerbau), sawu (sarung) dan kaci (kain putih) serta empe (tikar yang terbuat dari daun pandan). Benda–benda adat yang digunakan sesuai pada tahapan dan waktu yang telah dientukan oleh para tokoh adat di atas, tentunya memiliki nilai tersendiri yang sangat bermakna bagi mereka. Nilai-nilai ini berhubungan dengan hidup dan kehidupan manusia baik secara vertikal dengan sang pencipta maupun secara horizontal dengan sesama manusia.
Nilai yang tertuang dalam adat perkawinan suku Moronene adalah: Pertama nilai religius yang berkaitan erat dengan unsur kepercayaan tentang adanya makhluk gaib, makhluk halus dan roh-roh jahat serta kepercayaan tentang adanya sang pencipta alam dan beserta isinya, yakni Allah SWT. Kedua nilai estetika menyangkut sikap dan penampilan seseorang dalam mengungkapkan dan menikmati hal-hal yang megandung nilai-nilai keindahan dan artistik karya manusia. Ketiga nilai sosial adalah suatu nilai yang terdapat pada setiap individu mewujudkan pada orang lain atau lingkungannya sehingga dapat terlihat dan terwujud suatu kerjasama yang baik dengan dan dilandasi suatu pengertian bahwa satu pekerjaan bila dikerjaka secara bersama-sama bagaimanapun beratnya akan terasa ringan. Masyarakat Kabaena khususnya suku Moronene di Kelurahan Rahampuu  saat ini umumnya tidak memahami dengan jelas makna simbolik apa yang sebenarnya tersirat dalam benda-benda adat yang digunakan dalam perkawinan suku moronene, sehingga nilai-nilai yang terkandung didalamnya hanya di ketahui oleh kalangan tokoh-tokoh adat saja. Ini terlihat bahwa kurangnya inisiatif dari para pemuda atau remaja untuk mempelajari adat istiadat budayanya sendiri, yang diharapkan dapat menjadi penerus dan pemelihara kelestarian budaya lokal sebagai ciri khas suku Moronene di Kabaena. Seiring dengan perkembangan zaman belakangan ini disadari atau tidak secara perlahan dalam adat perkawinan suku Moronene telah mengalami pergeseran nilai dan tata cara. Diantaranya adalah sarana dan nilainya tidak lagi berdasarkan status sosial, atau kelengkapan adat sebagaimana yang digariskan dalam hukum adat, tetapi disesuaikan dengan perkembangan zaman dan kemampuan ekonomi seseorang. Sebagaimana yang terjadi pada masyarakat di Kelurahan Rahampuu, Kecamatan Kabaena, Kabupaten Bombana mencerminkan benda-benda yang digukan dalam adat perkawinan tidak lagi sesuai dengan kebiasaan nenek moyang terdahulu, meskipun tanpa menghilangkan hukum adat yang menggariskan cara dan nilai perkawinan tersebut.


BAB 4
KESIMPULAN
           Suku Moronene adalah salah satu dari sekian banyak kelompok masyarakat adat-dulu sering disalah artikan sebagai suku terasing di Sulawesi Tenggara. Di kaki pulau yang mirip huruf K itu ada suku Tolaki, Muna, dan Wolio (tiga yang terbesar),lalu ada Wawoni, Moronene, Kalisusu, Ciacia, serta Wakatobi. Suku Moronene memang hidup di kawasan sumber air. Mereka tergolong suku bangsa dari rumpun Melayu Tua yang datang dari Hindia Belakang pada zaman prasejarah atau zaman batu muda, kira-kira 2.000 tahun sebelum Masehi. Tidak diketahui kapan tepatnya suku Moronene mulai menghuni kawasan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai. Tetapi sebuah peta yang dibuat pemerintah Belanda pada tahun 1820 sudah mencantumkan nama Kampung Hukaea, yakni kampung terbesar orang Moronene. Seperti kebanyakan masyarakat adat lainnya, orang Moronene juga melakukan perladangan berpindah dengan sistem rotasi. Tapi sistem itu sudah lama ditinggalkan dan mereka memilih menetap. Suku Moronene juga dikenal pandai memelihara ekosistem mereka. Jonga atau sejenis rusa, misalnya, masih sering ditemui di sekitar permukiman mereka di Hukaea, termasuk burung kakatua jambul kuning, satwa endemik Sulawesi yang dilindungi. Namun, sifat asli suku ini, yang memegang tegung adat mosobu (pasrah dan tidak melawan), dan etos kerjanya yang rendah membuat mereka rentan terhadap penggusuran.

DAFTAR PUSTAKA
Anggo, P. 2014. “Sejarah Perkembangan Suku Moronene. http://suku-dunia.blogspot.co.id/2014/08/sejarah-perkembangan-suku-moronene.html.16  november 2015